10 Film Animasi Terbaik yang Mendapatkan Piala Oscar

Animasi saat ini telah menjadi pilihan yang paling efektif untuk menyampaikan pesan. Di dunia hiburan misalnya, sudah tak terhitung berapa banyak film-film animasi yang bertebaran. Para penggemarnya juga tak mengenal usia, mulai dari yang paling kecil, muda, hingga dewasa sekali pun, semua tak bisa menolak efek-efek spesial yang hanya bisa ditemukan pada film-film semacam ini.

Perkembangan film animasi di ranah perfilman ternyata telah menyita perhatian banyak pihak. Oleh karenanya, penghargaan untuk film animasi terbaik mulai diberikan pertama kalinya pada tahun 2001 di ajang Academy Awards (Penghargaan Oscar). Untuk mengetahui film animasi atau kartun apakah yang berhasil memenangkan piala pada ajang penghargaan tertua dalam bidang film: Penghargaan Oscar, simak daftarnya yang telah Oliswel buat berikut ini.

1. Shrek (2001)

10 Film Animasi Terbaik yang Mendapatkan Piala Oscar Film

Kebanyakan pemenang dalam kategori film animasi terbaik pada ajang penganugerahaan paling bergengsi itu adalah film animasi CGI. Untuk pertama, Shrek menjadi yang pertama yang berhasil menenangkan Academy Awards untuk Best Animated Feature pada tahun 2001, dan termasuk satu yang dinominasikan untuk kategori Skenario Adaptasi Terbaik. Di Indonesia, film ini telah di-dubbing atau disuarakan ke dalam bahasa Indonesia sehingga penonton bisa lebih menikmati jalannya cerita.

Shrek sendiri merupakan film animasi Amerika Serikat yang dibesut oleh Andrew Adamson dan Vicky Jenson. Dalam menyelesaikan proyek tersebut, dicarilah pengisi suara yang dianggap paling pas untuk mengisi masing-masing karakter. Dari banyak yang mendaftar, terpilihlah beberapa diantaranya seperti Mike Myers, John Lithgow, Cameron Diaz, dan Eddy Murphy. Film ini merupakan hasil adaptasi sebuah buku dongeng berjudul sama karya William Steig yang kemudian divisualisasikan oleh DreamWorks Animation ke dalam layar lebar.

Untuk ceritanya, Shrek mengambil latar di sebuah rawa yang damai dan negeri dongeng. Shrek (Mike Myers) telah nyaman hidup sendiri di rawa-rawa yang damai hingga kemudian dia terusik dengan kedatangan para makhluk dari negeri dongeng yang diusir oleh rajanya. Bersama Donkey, keledai yang bisa berbicara, mereka menemui sang raja, Lord Farquaad, dan memintanya untuk membawa kembali para makhluk yang telah diusir dari “kerajaannya”. Farquaad pun bersedia memenuhi permintaan Shrek dan Donkey dengan syarat mereka harus bisa membawa pulang dengan selamat calon istri Farquuad yakni Fiona. Tak disangka, perjalanan mereka justru menjadi pertemuan abadi antara Shrek dengan kekasihnya, Fiona.

2. Spirited Away (2001)

10 Film Animasi Terbaik yang Mendapatkan Piala Oscar Film

Di tahun yang sama seperti perilisan Shrek, Spirited Away berhasil meraih piala di ajang penghargaan Oscar berkat kepiawaian Hayao Mizayaki dalam meramu cerita berikut bumbu-bumbu mujarab berupa pesan moralnya. Film yang berarti “Jiwa yang Menghilang” ini jika di-Indonesiakan termasuk satu yang tidak menggunakan teknologi CGI dalam penggarapannya.

Meskipun ini adalah film anime animasi tradisional dan tampak sederhana, namun Hayao telah menggugahnya menjadi karya yang sarat dengan nilai-nilai. Tak heran jika film yang diproduksi oleh Studio Ghibli dan kemudian diversi Inggris-kan oleh Disney ini sukses besar secara komersil di angka 340 Juta Dollar Amerika Serikat. Angka pendapatan bombastis yang berhasil menggeser penghasilan film Titanic dan menjadi salah satu film animasi tersukses di Jepang.

Spirited Away berkisah tentang seorang bocah perempuan bernama Chihiro yang terjebak di dunia arwah untuk bisa menyelamatkan ayah ibunya yang berubah menjadi babi karena memakan makanan siluman. Chihiro dibantu oleh seekor naga yang baik bernama Haku yang juga turut mengabulkan permintaannya agar bisa menyelamatkan dirinya serta kedua orang tuanya.

Sebuah pesan moral yang tampak jelas ingin disampaikan oleh Spirited Away adalah kita, sebagai manusia, jangan sampai “menyerahkan nyawa” kepada setan akibat keinginan duniawi. Dilematika, konflik batin, dan pengharapan bagi Chihiro dan orang tuanya agar bisa langsung selamat akan Anda temui, meskipun Anda tahu bahwa yang mereka alami itu merupakan buah dari perbuatannya sendiri.

3. Finding Nemo (2003)

Pixar Animation Studios dan Walt Disney Pictures bekerja sama dalam mengolah karakter yang dimunculkan pada Finding Nemo. Keahlian dari dua studio animasi ternama di Amerika Serikat itu telah mencatut Finding Nemo sebagai pemenang di ajang Academy Awards tahun 2004. Film animasi ini mengusung beberapa genre, mulai dari petualangan, komedi, dan keluarga.

Bisa dibilang kalau Finding Nemo termasuk sebagai salah satu film animasi favorit anak-anak. Pasalnya, konsep dan jalan cerita pada film ini sangat seru dan menarik. Dengan mengambil tema petualangan para ikan di bawah laut, Finding Nemo secara tak sadar menjadi pelopor timbulnya film-film animasi bertema serupa, meskipun sampai sekarang belum banyak dari film-film bertemakan sama lainnya itu yang berhasil mengimbangi kesuksesan dari Finding Nemo sendiri.

Di dalam Finding Nemo, Anda akan disuguhi banyak adegan seru, lucu, dan bertemu dengan karakter yang unik-unik. Pengolaborasian unsur komedi dan ketegangan yang ditampilkan juga berhasil mengoyak-ngoyak emosi penontonnya. Setelah berhasil meraih penghargaan Oscar untuk kategori Film Animasi Terbaik, selanjutnya Finding Nemo dibuat sekuel berjudul Finding Dory yang juga masuk ke dalam daftar film animasi terpopuler.

4. The Incredibles (2004)

10 Film Animasi Terbaik yang Mendapatkan Piala Oscar Film

The Incredibles juga termasuk film animasi keluarga terbaik yang pernah ada di sepanjang sejarah perfilman Hollywood. Berkisah tentang sebuah keluarga superhero yang kemampuannya tak ingin dilihat oleh tetangga dan masyarakat. Sementara sang bapak, Mr. Incredible, yang tetap berusaha menjadi seorang savior juga berusaha menjadi ayah yang bertanggung jawab terhadap keluarganya.

Inti dari cerita pada The Incredibles lebih dominan ke unsur kekeluargaan, bukan kemampuan super dari masing-masing karakternya. Itulah mengapa The Incredibles disebut-sebut sebagai film animasi yang tak boleh dilewatkan. Beberapa pelajaran moral yang bisa diambil dari The Incredibles adalah kewajiban anak untuk patuh pada orang tua, serta peran orang tua dalam mendidik anak dan tidak bertengkar di depan anak-anaknya.

Karakter-karakter serta visualisasi pendukung lain digarap langsung oleh Pixar sehingga tak heran jika hasilnya sangat luar biasa. Film ini sendiri sebelumnya pernah membuntuti Finding Nemo dalam peraihan angka pendapatan yakni $631 juta Dollar Amerika Serikat. Namun, pada tahun 2009, posisi tersebut harus direbut oleh Up yang mendapatkan keuntungan hingga 683 Juta Dollar Amerika Serikat.

5. Wallace & Gromit: The Curse of the Were-Rabbit (2005)

10 Film Animasi Terbaik yang Mendapatkan Piala Oscar Film

Wallace dan Gromit di tahun 1989 muncul dalam film pendek berjudul A Grand Day Out. Dikarenakan tampil kurang prima dan cukup mengecewakan, kini mereka menebusnya lewat The Curse of the Were-Rabbit yang kemudian membawa pulang Oscar sebagai Film Animasi Terbaik di tahun 2006. Di film ini, Wallace dan Gromit tetap berpegang pada karakternya masing-masing.

Wallace yang selalu membuat kekacauan dan Gromit, si anjing pintar namun tak pernah berbicara, bekerja bersama-sama sebagai pemusnah hama di perusahaan “Anti-Presto”. Dikepalai oleh Wallace, bersama Gromit mereka bersaing dengan pembasmi hama lain bernama Lord Victor Quartermine. Keduanya berlomba untuk menangkap para kelinci dengan caranya masing-masing.

Jika Anda termasuk penggemar serial animasi Shaun The Sheep, pasti tak asing dengan sinematografi semacam ini. Aardman Animations adalah studio animasi dari Inggris yang menangani keseluruhan visual dalam Shaun The Sheep dan Wallace & Gromit. Meski menghasilkan animasi dengan cara tradisional stop motion dalam membesut kebanyakan karyanya, Aardman Animations telah membuktikan bahwa sebuah film animasi tak harus melulu didandani oleh efek CGI untuk bisa dinikmati penonton.

Sang sutradara, Nick Park –yang sebelumnya juga pernah merias versi film pendek “A Grand Day Out”, dibantu oleh Steve Box dalam membidani Wallace & Gromit: The Curse of the Were-Rabbit, termasuk penulisan naskahnya. Keduanya menciptakan banyak karakter yang masing-masing menyumbangkan energi penuh semangat sehingga tak meninggalkan satu adegan pun yang membosankan. Perpaduan komedi dan horornya tampak seimbang sehingga memberikan hiburan yang sangat menyenangkan.

6. Happy Feet (2006)

Tak mau kalah dengan rivalnya, Warner Bros juga menawarkan tontonan segar bagi keluarga bertajuk Happy Feet. Film animasi yang disutradai oleh George Miller ini menampilkan sederet nama aktor-aktris yang telah lama eksis di layar lebar, seperti Elijah Wood, Robin Williams, Hugh Jackman, Nicole Kidman, dan lain-lain, sebagai pengisi suara pada beberapa tokoh utama.

Tokoh utama dalam Happy Feet bernama Mumble disuarakan oleh Elijah Wood, putra pasangan Memphis oleh Hugh Jackman, dan Norma Jean oleh Nicole Kidman. Happy Feet mengisahkan kehidupan para penguin di pedalaman Antartika yang mana setiap penguin jantan memikat penguin betina dengan menyanyikan lagu-lagu cinta. Satu dari mereka, Mumble, adalah penguin yang sejak lahir tak bisa bernyanyi.

Meskipun Mumble tak bisa bernyanyi seperti penguin-penguin lain, dia adalah penguin yang paling bisa melakukan tap dance. Kemampuannya tersebut biasa dikeluarkan saat dia ingin melepaskan rasa sedihnya. Sampai Mumble dewasa dia berusaha keras agar bisa bernyanyi, namun tetap tak bisa dan justru dia harus berpisah dengan keluarganya karena dianggap mengganggu alam mereka dengan gaya ‘hippity-hoppity’-nya. Tak ingin tenggelam dalam keputusasaan, Mumble bertekad untuk menunjukkan bahwa dirinya lebih dari yang penguin-penguin lain anggap. Ditemani oleh Lovelace yang disuarakan oleh Robin Williams, Mumble mengetahui bahwa anggapan bangsa penguin terhadapnya itu keliru.

Pelajaran yang dapat dipetik dari Happy Feet adalah tentang sikap kita yang tak perlu merasa takut karena diri kita berbeda dari orang lain. Setiap orang memang Tuhan ciptakan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Selain itu, Happy Feet juga menonjolkan unsur-unsur lain seperti persahabatan, kerjasama, kasih orang tua pada anaknya, dan konflik-konflik yang menguras emosi.

7. Ratatouille (2007)

10 Film Animasi Terbaik yang Mendapatkan Piala Oscar Film

Bagaimana jadinya jika tikus yang terkenal sebagai hewan pengerat yang ditakuti oleh juru masak justru menjadi seekor juru masak itu sendiri? Di Ratatoille, Anda bisa melihat seekor tikus bernama Remy yang punya mimpi untuk menjadi seekor tikus yang ahli memasak. Meskipun pilihannya bertolak belakang dengan keinginan keluarganya, Remy secara perlahan mulai jago dalam urusan memasak, terutama setelah bertemu dengan seorang tukang sampah bernama Linguini yang baru bekerja di sebuah restoran.

Karakter Remy dalam Ratatoille disuarakan oleh Patton Oswalt, sedangkan Linguini oleh Lou Romano. Film animasi komputer ini diproduksi oleh Pixar dan didistribusikan oleh Walt Disney Pictures. Selain mendapat ganjaran berupa menang Oscar karena sukses menjadi tontonan yang sangat menghibur, Rataouille juga sukses memperoleh keuntungan sebanyak 624 Juta Amerika Serikat. Angka pendapatan tersebut menjadi kartun dari Pixar ini mendapat posisi tertinggi keempat setelah Finding Nemo, Up, dan The incredibles.

8. WALL•E (2008)

10 Film Animasi Terbaik yang Mendapatkan Piala Oscar Film

Pixar sangat berbahagia saat mendapati film animasi terbaik ciptaannya memperoleh piala Oscar (lagi) setelah di tahun sebelumnya juga berhasil memenangkannya lewat Ratatouille. Kali ini, Pixar menceritakan kehidupan di masa depan di mana bumi sudah bukan lagi menjadi tempat tinggal yang layak karena dipenuhi oleh sampah. Hampir sepanjang ceritanya penonton akan disuguhi pemandangan bumi yang jauh berbeda dengan ekspetasi banyak orang mengenai keadaan bumi di masa depan.

Sang sutradara, Andrew Stantion, seakan menyentil berbagai pihak yang telah banyak memberi kontribusi terhadap kemajuan sekaligus kehancuran kehidupan di muka bumi lewat film yang dimotorinya ini. Bumi yang sangat sepi, kering kerontang, panas, dan disesaki oleh berbagai macam sampah non-organik, terutama logam-logam, menjadi wujud tragis yang akan bumi alami jika manusia tak peduli dengan lingkungannya.

Dalam ukuran film animasi, Wall E tampak istimewa dari segala aspek, meliputi garis cerita hingga grafis. Tak heran jika film ini dianggap sebagai masterpiece-nya Pixar. Tema yang diangkat mengenai dampak global warming yang coba disampaikan oleh Wall E bagaikan tamparan keras untuk kita semua agar lebih peduli terhadap “rumah” kita sendiri. Terlepas dari minimnya komedi, Wall E benar-benar menjadi sebuah sajian yang cerdas dan mengurang emosi.

9. Up (2009)

10 Film Animasi Terbaik yang Mendapatkan Piala Oscar Film

Sebagai pendatang baru, Up langsung berbuat “tak sopan” pada pendahulunya. Film animasi terbaik sepanjang masa yang diproduksi oleh Pixar Animation Studios ini telah merebut posisi kedua dalam urutan film animasi dengan pendapatan tertinggi dari Pixar, setelah Finding Nemo. Jika ditotal, hingga kini Up telah meraih sebanyak 727 Juta Dollar Amerika. Dengan peraihan angka sebanyak itu, Up menjadi film Pixar tersukses kedua di seluruh dunia.

Kesuksesan Up tak lain berkat keahlian Pete Docter dalam menerapkan cerita yang ditulis olehnya ditemani dengan Bob Peterson dan Thomas McCarthy. Tema yang diangkat oleh Up juga cukup umum, yakni tentang cinta, kesetiaan, dan perjuangan. Dengan mengusung tema yang saling terkait, Up hadir untuk memberi hiburan yang luar biasa bagi setiap pasang mata serta emosi penontonnya.

Semenjak perilisannya, Up memperoleh reaksi kritikan yang sangat positif dari banyak media. Di dalam media kritikus profesional, Up mendapatkan rating positif di atas 90%. Bahkan, dari Rotten Tomatoes, film animasi terbaik romantis ini hampir mendapatkan perolehan rating mencapai 99%. Dengan total persentase itu, Rotten Tomatoes menghadiahi Up dengan menyatakannya sebagai film dengan rating tertinggi pada tahun 2009 serta mendapatkan “Golden Tomato”.

10. Toy Story 3

10 Film Animasi Terbaik yang Mendapatkan Piala Oscar Film

Terlepas dari mengingat Cars dan Cars 2 yang terlihat kurang maksimal dalam penggarapannya, Pixar, studio animasi ternama itu memang tak pernah berantakan dalam menciptakan sebuah karya. Selain Finding Nemo, Ratatouille, The Inredibles, dan Up, Pixar juga mempersembahkan Toy Story pertama di tahun 1995. Film Toy Story adalah film animasi pertama yang digarap Pixar dengan dominasi efek CGI.

Petualangan mainan ajaib yang menjadi miliki seorang bocah ternyata telah membuat Toy Story melanjutkan kisahnya hingga menjadi sebuah trilogi film animasi terbaik yang pernah ada. Beragam unsur yang ditarik oleh Toy Story sangat melekat dengan kehidupan, mulai dari persahabatan, kebersamaan, hingga puncak alias klimaksnya: perpisahan.

Baik sekuel pertama, kedua, ataupun ketiga, Toy Story tak pernah kehabisan akal untuk memikat para penggemarnya. Terbukti, ketiga seri film tersebut mendapat perolehan rating mencapai 90% lebih di beberapa media kritikus internasional. Sementara untuk seri ketiganya atau yang terakhir, Toy Story 3 tampil sangat prima baik dari segi cerita ataupun grafis yang tampak sangat nyata.

Jadi apabila dilihat secara keseluruhan, tak heran jika Toy Story 3 masuk ke dalam 5 nominasi sekaligus di ajang Academy Awards 2011 dan dua diantaranya: Best Animated Feature dan Best Motion Pictures, berhasil dimenangkan. Film animasi adventure yang menjadi seri penutup dari kisah petualangan mainan ajaib milik seorang anak bernama Woody ini menjadi bagian terbaik dari ketiga filmnya. Dengan demikian, Toy Story 3 telah berjasa banyak dalam menambah perolehan pundi-pundi uang mencapai 1 Juta Dollar Amerika di seluruh dunia.

Dari ke-10 film animasi terbaik yang ada di dalam daftar tersebut, tentu masing-masingnya mempunyai senjata pamungkas yang kemudian diganjar dengan trofi penghargaan atas usahanya menghibur penonton di seluruh dunia. Saat ini tidak banyak studio produksi yang mau mendadani karakter-karakter pada film-film kartun animasi. Alasannya bukan karena yang lain tak mampu, tetapi mungkin dikarenakan mereka tak ingin mengusik para “pentolan” yang telah lama bergelut di bidang ini untuk terus melayangkan karya-karya terbaiknya.

One Response

Berikan Komentar